Diantara aku, kamu dan Sang Pencipta
Malam itu ketika aku berhenti di titik memikirkan masa depan aku, kamu dan Ia. Iya Ia sang pencipta yang kita sebut dengan lafadz berbeda. Gemetarku selalu datang ketika aku mengingat kita. Antara aku dengan Tuhanku dan kamu dengan Tuhanmu.
Kamu tak pernah tau apa yang selalu menjadi titik berhenti ku untuk mengabaikan pesan singkatmu. Ya, aku hanya sedang menenangkan pikiranku sejenak, memikirkan bagaimana cara agar aku bisa terus bersamamu dengan background kita berbeda.
Aku dengan alhamdulillah ku disetiap hari berganti masih dapat kita lewati bersama, kamu dengan puji Tuhanmu disetiap hari berganti masih dapat kita lewati bersama. Aku yang tak pernah lupa menyelipkan namamu disetiap penghujung sujudku, dengan mengadahkan tangan disetiap selesai 5 waktuku. Kamu yang tak lupa juga menyelipkan namaku disetiap ibadah minggumu, dengan kepalan tangan sambil memujaNya.
Aku tau tak seharusnya kita berfikir kritis sejauh ini, karena aku yakin kamu pun tidak mau memikirkan ini sekarang. Tapi buat ku itu sangat lah penting karena aku terlanjur. Ya terlanjur begitu menyayangimu. Tapi disisi lain, aku dan kamu begitu erat dengan keyakinan Tuhan yang selama ini kita percayai.
Tuhan, jika aku boleh meminta ijinkan waktu berhenti sejenak untuk aku bisa merasa lebih lama bersamanya. Karena aku tau Tuhan, diujung sana akan ada waktu dimana perpisahan datang dengan begitu menyesakkan.
Tuhan, jika aku dan dia tidak Kau ijinkan untuk bersatu kelak dengan kebahagiaan berumah tangga, kenapa Kau pertemukan aku dengan dia yang berbeda, dengan dia yang begitu tulus dan sabar menjagaku, dengan dia yang selalu memberikan cinta disetiap hariku, dengan dia yang sudah aku berikan hatiku untuk bisa kita jalani sampai dia mengucap ikrar didepan penghulu dan ayahku.
Aku ingin menjauh darimu demi Penciptaku. Tapi rasa itu. Rasa itu selalu menjagaku untuk tidak bisa melepaskan. Entah apa yang harus aku dan kamu lakukan, karena bagaimana mungkin kita lebih memilih ciptaanNya dan mengingkari Sang Pencipta.
Kamu tak pernah tau apa yang selalu menjadi titik berhenti ku untuk mengabaikan pesan singkatmu. Ya, aku hanya sedang menenangkan pikiranku sejenak, memikirkan bagaimana cara agar aku bisa terus bersamamu dengan background kita berbeda.
Aku dengan alhamdulillah ku disetiap hari berganti masih dapat kita lewati bersama, kamu dengan puji Tuhanmu disetiap hari berganti masih dapat kita lewati bersama. Aku yang tak pernah lupa menyelipkan namamu disetiap penghujung sujudku, dengan mengadahkan tangan disetiap selesai 5 waktuku. Kamu yang tak lupa juga menyelipkan namaku disetiap ibadah minggumu, dengan kepalan tangan sambil memujaNya.
Aku tau tak seharusnya kita berfikir kritis sejauh ini, karena aku yakin kamu pun tidak mau memikirkan ini sekarang. Tapi buat ku itu sangat lah penting karena aku terlanjur. Ya terlanjur begitu menyayangimu. Tapi disisi lain, aku dan kamu begitu erat dengan keyakinan Tuhan yang selama ini kita percayai.
Tuhan, jika aku boleh meminta ijinkan waktu berhenti sejenak untuk aku bisa merasa lebih lama bersamanya. Karena aku tau Tuhan, diujung sana akan ada waktu dimana perpisahan datang dengan begitu menyesakkan.
Tuhan, jika aku dan dia tidak Kau ijinkan untuk bersatu kelak dengan kebahagiaan berumah tangga, kenapa Kau pertemukan aku dengan dia yang berbeda, dengan dia yang begitu tulus dan sabar menjagaku, dengan dia yang selalu memberikan cinta disetiap hariku, dengan dia yang sudah aku berikan hatiku untuk bisa kita jalani sampai dia mengucap ikrar didepan penghulu dan ayahku.
Aku ingin menjauh darimu demi Penciptaku. Tapi rasa itu. Rasa itu selalu menjagaku untuk tidak bisa melepaskan. Entah apa yang harus aku dan kamu lakukan, karena bagaimana mungkin kita lebih memilih ciptaanNya dan mengingkari Sang Pencipta.
Jakarta, April 2019
02.03 A.M
Komentar
Posting Komentar